March 1, 2019

Dilan 1991: Tidak Sesuai dengan Budaya Bugis-Makassar?


Sama seperti novelnya, setelah Dilan 1990 maka dilanjutkan dengan Dilan 1991. Kesuksesan film Dilan 1990 yang menjadi film terlaris dengan jumlah penonton 6.315.664 orang di tahun 2018 kemarin, pastinya akan dilanjutkan dengan film Dilan 1991. Kemarin, 28 Februari 2019 secara serentak ditayangkan di seluruh Indonesia.

Sebenarnya saya ingin langsung mereview film ini, hanya saja ada beberapa kejadian-kejadian menggelikan di kota saya menimbah ilmu, hingga membuat saya gatal ingin berkomentar. Kejadian tersebut adalah penolakan film Dilan 1991 ini oleh sejumlah mahasiswa di Makassar yang tergabung dalam Kompi Sulsel (saya gak tau apa kepanjangannya dan gak penting juga dibahas mereka siapa). Menurut mereka film tersebut mengakibatkan tingkat kekerasan di dunia pendidikan meningkat, dan tambahan lagi kata mereka film tersebut tidak sesuai dengan budaya Bugis-Makassar karena di Sulawesi Selatan sangat memegang teguh budaya ketimuran yang sangat santun. WTF IS THIS!

Berbeda dengan di Makassar, film yang berlatar belakang kota Bandung di era 90-an malah mendapat respon positif dari masyarakat. Malah pemerintah provinsi Jawa Barat akan membangun Taman Dilan atau Dilan Corner di kota Bandung. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat yaitu Ridwan Kamil didampingi Arif Yahya sebagai Menteri Pariwisata dan dua bintang utama Iqbal dan Vanessa (bukan Vanessa Angle ya!).

Saya jadi bingung kenapa mahasiswa-mahasiswa di Makassar sampai menolak film ini. Padahal sudah ada Lembaga Sensor Film Indonesia yang bertugas untuk melindungi masyarakat dari pengaruh negatif film dan mendorong berkembangnya perfilman nasional yang berdaya saing sesuai tata nilai budaya bangsa yang unggul.


Saya sudah menonton film Dilan 1991 ini kemarin dan semua adegannya saya rasa aman-aman saja. Tidak ada adegan perkelahian atau adegan ciuman. Lalu kenapa film tersebut yang seolah-olah dikambing-hitamkan sebagai pengaruh meningkatnya tingkat kekerasan? Dan... Uhmm... Lucunya lagi, mahasiswa yang datang melakukan aksi malah bertindak anarkis dan merusak beberapa barang milik bioskop. Lah? Anda ini menolak film yang konon kalian anggap mengajarkan pelajar untuk tawuran malah anda yang rusuh di dalam mall. Sungguh budaya ketimuran yang sangat santun! Saya rasa Pidi Baiq hanya tertawa terbahak-bahak melihat kejadian ini.

Lagi pula saya tinggal di Makassar sejak tahun 2015, jauh sebelum film ini tayang, dan aksi tawuran atau bentrok sudah jadi hal yang lumrah bagi saya. Malahan sekarang, hal-hal seperti itu mulai berkurang dan sudah tidak semasif dulu.


Walaupun aksi penolakan film Dilan 1991 ini oleh sejumlah mahasiswa, tetapi sama sekali tidak mempengaruhi film itu sendiri. Buktinya dalam sehari film tersebut sudah meraih 800.000 penayangan dan memecahkan rekor Box Office sepanjang masa. Jumlah yang demo sama jumlah yang nonton sangat berbanding jauh, pulang-pulang paling bau matahari semua.

Sepertinya saya sudah menulis cukup panjang, sebelum saya mengakhiri saya ingin mereview sedikit film ini. Jujur saja untuk sebuah film, Dilan ini keren sih. Tapi jangan coba-coba menirunya di dunia nyata, karena semua gombal-gombalan yang kamu ucapkan akan terdengar cringe. Coba saja kalau tidak percaya. Kalau gebetanmu tiba-tiba nanya cita-cita kamu apa, lalu kamu jawab dengan sangat percaya diri, "menikahimu!". Siap-siap saja dibalas "Apaan sih anjir!".

Dari semua pemeran, gak usah dijelasin lagi. Penjiwaan masing-masing pemeran sudah gak diragukan lagi. Cuma ada satu yang menurut saya agak menggelitik, yaitu munculnya Andovi La Dopez sebagai tokoh Hendri. Saya merasa dia gak cocok banget main film romantis, apalagi disandingkan dengan Vanessa. Dia lebih cocok film komedi sih.

Overall sih keren, cukup membuat saya semakin jatuh cinta dengan kota Bandung. Sebelum kenal Dilan, saya sudah tertarik dengan kota Bandung berkat Ridwan Kamil. Sosok pemimpin yang sangat menginspirasi saya pribadi. Dan terima kasih juga kepada Piqi Baiq atas karya yang luar biasanya ini. Ditunggu film selanjutnya, Milea.

11 comments:

  1. Wah... Aku masih berniat mau menonton Kak. Aku ketinggalan berita kalau Dilan 1991 sudah tayang, eh lupa tanggal begitu.

    Kalau dari ceritanya di buku memang tidak ada kekerasan / ciuman.

    Btw, aku setuju...
    Filmnya menimbulkan kekerasan tapi kok yang protes malah yang melakukan kekerasan?
    Apa nggak bisa mereka protesnya dengan cara yang lebih terhormat lagi?

    Jadi makin nggak sabar mau nonton filmnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Segera ditonton kak mumpung masih hangat. Hehehe...

      Delete
    2. Sampai hari ini masih gagal nonton, padahal sudah berkali-kali merencanakan. Memang ya waktu yang belum berpihak untuk nonton. Tapi, percaya deh Dilan bakal lama di bioskop, soalnya di kotaku masih antri panjang setiap pembelian tiket Dilan.

      Delete
    3. Belum up-to-date lagi ternyat. Ditunggu kakak. :)

      Delete
  2. Wahh aku tinggal di Bandung pun gak mengikutin film ini sama skali. Baru cari tau tentang filmnya gara-gara yang rame di Makassar itu. Kalau adegan di filmnya aman-aman aja, trus apa dong pemicunya? apakah di film ini disinggung budaya masyarakat Bugis kah? jadi ikut penasaran nonton. huft

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak ada disinggung sih masalah budaya Bugis-Makassar. Yang demo di Makassar juga hanya segelintir orang saja, masih jauh lebih banyak yang mengapresiasi film Dilan 1991 ini.

      Delete
  3. Saya belum pernah nonton filmnya, di desa ga ada bioskop hehee... Tapi saya main gamenya Dilan ini, gamenya aja bagus, apalagi filmnya ya...
    Kalau yang gak setuju sama ini film, coba film ini digratiskan dan nonton bareng di lapangan, mungkin mereka akan nonton juga hehee...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Giliran gratisan diserbu juga ye.

      Delete
  4. Itu orang pada kenapa sih? Hasil karya anak bangsa bukannya dihargai malah didemo. Lah elu yang demo, udah pernah bikin prestasi apa?

    Krik.. krik.. krik..

    ReplyDelete