October 31, 2018

Halloween (2018): Dendam Masa Lalu Laurie vs Myers

Bagi sebagian orang di dunia ini, 31 Oktober adalah perayaan Halloween. Perayaan tersebut dirakayan oleh umat Kekristenan Barat dan sebagaian non-Kristen di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, Halloween jelas tidak dirayakan, karena itu bukan budaya di Indonesia. Padahal saya berharap Halloween jadi perayaan nasional di Indonesia, bukan karena ingin  ikut-ikutan pesta kostum hantu seperti di film-film, tapi biar tanggal 31 Oktober jadi tanggal merah aja di kalender, lumayan kan kalau libur. Saya jadi bisa mager-mageran di kasur seharian.

Tulisan kali ini saya bukan membahas tentang perayaan Halloween tersebut, tapi saya ingin menulis sebuah review atau ulasan seputar film Halloween (2018) yang baru-baru saja tayang di bioskop. Ini saya tulis berdasarkan apa yang saya ingin tulis saja, karena saya juga memang tidak begitu expert dalam mengulas sebuah film. Tidak mungkin saya mereview film ini dari alur ceritanya, pengambilan gambarnya ataupun editingnya, siapalah saya ini. Pastinya, saya tidak akan ngespoiler film ini, tenang saja.

Sekedar informasi saja, saya itu orangnya paling takut nonton film horor. Halloween ini adalah film horor pertama yang saya nonton di bioskop. Saya menantang diri saya sendiri, apakah memang saya selemah itu? Walaupun harus saya akui, jalan ke toilet pas terbangun di tengah malam gara-gara mau kencing saja membuat saya gemetar.

Film Halloween sebenarnya adalah sekuel dari film-film Halloween sebelumnya yang pertama kali tayang di tahun 1978. Terakhir muncul di tahun di tahun 2002 berjudul Halloween: Resurrection dan itu adalah sekuel ke-8. Nah, di tahun 2018 ini Halloween kembali difilmkan. Saya jujur belum pernah menonton film-film sebelumnya. Ini jelas film Halloween perdana yang saya tonton, jadi di film ini untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan seluruh tokoh yang ada di film ini dan mau tidak mau harus dipaksa untuk membayangkan tentang apa yang telah terjadi pada cerita sebelumnya.

Michael Myers
Michael Myers adalah sosok dibalik topeng menyeramkan di film Halloween tersebut. Pertama kali melihatnya pada saat itu di sebuah penjara, ia sudah begitu menyeramkan. Ia tampak begitu dingin. Tak pernah berbicara, tak banyak gerak, namun sikapnya sudah jelas menggambarkan bahwa ia adalah seorang psikopat yang tidak akan segan menghabisi siapa saja.

Sementara itu, disisi lain ada Laurie Strode. Seorang wanita tua yang tampak menyimpan begitu banyak rasa trauma terhadap Michael Myers. Laurie Strode jelas sama gilanya dengan Michael Myers, saya tak menyangka kalau wanita tua seperti dia itu punya keahlian menembak serta bela diri yang sangat bagus. Gejolak-gejolak yang timbul dalam diri Laurie Strode membuatnya harus melindungi orang-orang yang begitu disayanginya, yaitu satu putrinya (Karen) dan satu cucu perempuannya (Alysson).

Laurie Strode
Salah satu tokoh yang kalian tak akan sangka adalah seorang dokter psikologi bernama dr. Sartain, ia memberikan kejutan terhadap obsesi Michael Myers dalam membunuh begitu banyak orang. Salah satu hal yang dipikirkan dr. Sartain yang membuat saya juga ikutan berpikir demikian adalah tentangt perasaan seperti apa yang dirasakan oleh seseorang seperti Michael Myers ketika membunuh siapa saja yang ia temui, apakah senang atau bagaimana? 

Jadi, di sepanjang film ini kalian akan menyaksikan adegan pembunuhan dengan darah yang berserakan kemana-mana. Satu hal yang membuat saya merasa sedikit lega dari semua adegan pembunuhannya yaitu Michael Myers tidak membunuh seorang anak kecil. Terbukti pada saat ia memasuki ruangan sambil membawa pisau, bayi yang sedang terbaring hanya ia lihat dan lewati begitu saja. Juga pada saat di sebuah rumah yang terdapat anak kecil di dalamnya, ia tak membunuh anak kecil tersebut, tapi dua orang yang juga sedang berada di rumah tersebut berhasil dicabik-cabik dengan sangat tidak manusiawi.

Korban Pembunuhan Myers
Mungkin cukup itu saja yang saya ceritakan, Buat kalian yang ingin nonton, siap-siap saja dikejutkan dengan sangat berkelas. Tadinya saya pikir pulang nonton film ini parnoan saya semakin menjadi-jadi, ternyata tidak. Kurang greget apalagi coba?

Tapi jika nonton film horor Indonesia, saya masih akan berpikir dua kali. Saya masih begitu merinding mendengar suara ketawa kuntilanak, lagu-lagu Jawa seperti Lengser Wengi, dan masih banyak lagi yang menakutkan di film-film horor Indonesia. Mending nonton film komedi Indonesia, walau terkadang receh, tapi cukup sukses bikin ketawa. Ketawa itu baik loh bagi kesehatan jiwa, coba saja cek di Google. Lagipula review yang saya tulis juga sudah habis. Mau baca apa lagi?

8 comments:

  1. Ngak mau coba ?
    baju apa yg kmu mau pakai

    ReplyDelete
  2. saya belum sempat nonton ini nihh, aduhh

    ReplyDelete
  3. Wah bagus banget filmnya, tapi kalau aku sendiri sih lebih nungguin film susannay yang diperankan sama luna maya. Hmm. tapi film diatas bisa jadi referensi film juga sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya gak berani nonton film SUzzana, asli kambuh parnoan saya! Hahaha.

      Delete
  4. kayaknya film horor indonesia patut di coba loh mas wekeke.... xixixixixi....pizzz

    ReplyDelete