January 5, 2017

Tentang Membeli Sebuah Buku


Tentang Membeli Sebuah Buku

Beberapa hari terakhir ini saya sering banget berkunjung ke toko buku. Bukan untuk membeli sebuah buku melainkan hanya untuk sekadar jalan-jalan sembari mengisi waktu luang berhubung sudah banyak mata kuliah yang selesai di semester ini. Entah mengapa toko buku selalu memberikan perasaan damai. Suasana di toko buku juga sangat tenang dengan iringan musik hits yang cukup familiar di telinga saya.

Toko buku tersebut apalagi kalau bukan Gramedia Mall Panakkukang, Makassar. Salah satu alasannya karena memang rumah kontrakan saya jaraknya cukup dekat untuk menuju kesana. Sering saya mengahabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melihat koleksi buku yang ada di sana dan tidak jarang saya juga membaca buku yang segelnya sudah terlepas. Hanya saja berbeda dengan perpustakaan, disini tidak disediakan tempat duduk untuk membaca karena memang ini toko buku, tempat yang hanya untuk membeli sebuah buku.

Untuk membeli sebuah buku di sini saya terkadang berpikir dua kali. Pemikiran saya, ketika ke Gramedia dan ingin membeli sebuah buku, kamu harus sadar satu hal bahwa toko itu tidak pernah menjual buku murah selain ada diskon. Harga-harga yang dicantumkan bagi saya sangat tidak manusiawi. Tidak etis rasanya menjual ilmu pengetahuan dengan harga yang tidak adil. 

Pernah sekali ketika buku "Intelensi Embun Pagi" milik Dewi Lestari resmi diluncurkan. Saya sangat antusias ingin membelinya, saya cek di toko buku online harganya sekitar Rp. 100.000-an. Cuman saat itu saya belum terlalu percaya dengan hal yang berbau online shop. Saya pun memutuskan untuk membelinya langsung, dan alangkah terkejutnya saya ketika melihat harga yang tercantum naik drastis sekitar 30%. Niat itu pun saya urungkan dan kemudian beralih untuk membeli bakso di pinggiran mall tersebut.

Dalam membeli sebuah buku pun saya sesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya buku  tersebut sebagai bahan untuk menyelesaikan tugas kuliah, maka saya harus merelakan sedikit uang jajan untuk itu. Tapi untuk buku-buku yang memang hanya untuk bacaan pengisi waktu luang, saya terkadang menabung hingga uang tersebut bisa terkumpul. Kau tidak melulu perlu memuaskan nafsu untuk memiliki sebuah buku.

Saya sendiri suka membaca sebuah karya sastra, meski tidak begitu serius. Juga buku-buku bergenre komedi dan cerita perjalanan. Buku seperti ini sangat cocok sebagai penawar kejenuhan rutinitas kampus yang begitu sibuk.

Yang terpenting sebenarnya asalkan kita senang membaca buku. Mau beli buku apapun dengan  harga berapapun dan dengan alasan apapun itu sah-sah saja. Tanpa alasan pun itu tak masalah. Pertama karena memakai uangmu sendiri, dan yang kedua karena membeli sebuah buku itu lebih baik dari pada berfoya-foya yang tidak jelas.


14 comments:

  1. Teenlit2 saya dulu juga masuk ke Panakukang. Distribusi salah satu yg bikin harga buku yg lebih mahal, apalagi jauh dari percetakan penerbitnya ☺

    ReplyDelete
  2. Beli di bukalapak aja mas, atau di dunia ilmu

    ReplyDelete
  3. Hehehehe ... terkadang memang demikian adanya. Harga buku mahal sulit di jangkau, namun karya seseorang bukanlah di nilai dari uang meskipun uang berperan aktif di dalamnya. Betul kata ente beli atau tidak kembali lagi pada masing - masing prinsip. Dan budayakan membaca. Bangsa yang maju adalah bangsa yang gemar membaca.

    ReplyDelete
  4. Bener sekali belajar mengendalikan nafsu termasuk membeli buku yang belum perlu ini remonder buat saya juga ni yang hobi koleksi buku n komik

    ReplyDelete
  5. Gramed itu yang bikin mahal kulitas kertasnya. Kertas buku yang dijual gramed bagus tapi tipis dan kuat, makanya bukunya mahal. Yang bikin lebih mahal lagi ya lapaknya. Jual buku di gramed siap-siap bukunya naik drastis harganya. Emang gak cocok buat kantong pelajar. Kalo mau rada murah. Coba deh pinjem kartu kreditnya bapak/ibu atau tetangga, terutama yang BCA, biasanya diskon 10-20% kalo pake kartu kredit BCA.

    ReplyDelete
  6. Saya kalau ke toko buku lebih suka ke bagian stationarynya hihihi. Eh sesekali ke tempat buku sih, cuma ya itu gayanya doang beli beli buku. Bacanya juga entah kapan.

    ReplyDelete
  7. Nah mas kalau berkaitan dg buku sebagai makanan bagi otak kita, hemm..kalau ada uang yg ditabung untk dialokasikan kesitu mantap tuh, tapi kalau gak ada, ke perpustakaan daerah aja. Saya sering ke perpusda untuk baca buku dan dipinjam selama dua minggu. Buku diperpusda biasanya diupdate juga yg buku2 baru.

    ReplyDelete
  8. Saya pernah diusir gegara baca buku di Gramedia wkwkwk..saya masih inget dulu lagi baca bukunya Raditya Dika ahahha..

    ReplyDelete
  9. kalau aku kalau suka bukunya biasnaya langsung beli kadang susahnya kalau suka yang berseri itu nunggunya serasa lama

    ReplyDelete
  10. Wow, nice post. Stop wasting money. Gunakanlah dengan bijak uang Anda! Contohnya dengan membeli buku untuk investasi masa depan.

    ReplyDelete
  11. Kalo mau yg lebih irit lagi bisa kok ada aplikasi perpustakaan digital namana iJak hehee

    ReplyDelete
  12. Toko buku online kan karena kita kena cost biaya tambahan yakni biaya kirim.kalau beli cuma 1 mank terasa rugi ya hehe

    ReplyDelete
  13. saya seringan baca aja di Gramedia buku yang saya suka dan ujung2nya beli juga karena memang senang membaca apalagi tentang programming

    ReplyDelete
  14. Membeli buku untuk kelangsungan berpikir. Membeli makan untuk kelangsungan hidup. Sama sama penting yah ? Hehe . Smoga selalu ada rezeki untuk membeli kedua duanya 😊

    ReplyDelete

Jika berkunjung ke blog saya jangan lupa untuk meninggalkan sebuah komentar. Terserah kalian mau ngomong apa yang penting masih dalam batas wajar.