September 9, 2016

(Review): Buku Metafora Padma


Belum lama ini saya mengenal Bernard Batubara, bukan secara langsung melainkan saya menganalnya melalui karya-karyanya. Saya mulai mengikutinya di Twitter dan turut menyimak kesehariannya serta berbagai tips seputar dunia kepenulisan yang kerap kali dibagikan. Saya juga sering mengunjungi blog miliknya, mencari referensi seputar buku apa saja yang patut untuk dibaca. Ia seorang penulis yang secara tidak sadar membuat saya hanyut dan bahkan tenggelam dalam setiap katanya.

Awal september kemarin saya jalan-jalan ke Gramedia dan hendak mencari buku. Ketika itu Metafora Padma yang saya pilih (karena seringnya saya lihat tweet penulisnya sendiri atau orang lain tentang buku ini di Twitter) dan saya pun membelinya. Selepas itu, saya pun kembali kerumah dan tak ada aktivitas yang saya lakukan kini selain membaca Metafora Padma milik Bernard Batubara. Seakan mencoba membuat dunia ku sendiri. Metafora Padma, dari judulnya saja saya masih belum mengerti isi buku ini tentang apa. Saya benar-benar butuh menyelam terlebih dahulu sebelum mulai bermain-main dengan isi kepalaku. Selama membaca Metafora Padma, pada tiap bab yang kubaca, aku serasa tidak bisa terhindar dari bayang-bayang tentang kekerasan.

Buku ini adalah sebuah kumpulan cerita pendek. Terdapat empat belas cerita di dalamnya. Sebuah pembuka cerita yang bagus, "Perkenalan" yang berkisah tentang suatu konflik dalam rumah tangga dan sosial. Konflik yang timbul hanya dikarenakan sebuah identitas. Di daerah saya juga masih sering terjadi bentrok, baik itu antar warga maupun mahasiswa, hanya dikarenakan sebuah identitas, suku. Berbeda dengan karya-karya yang sebelumnya, pada buku ini bisa dikatakan unik. Dalam bukunya kali ini ia menampilkan suatu keadaan yang sangat tragis tetapi tidak lepas dari ciri khasnya tentang cinta. Bagian pertama di buku ini memberikan kesan yang baik sehingga membuat saya semakin ingin melanjutkan ke cerita berikutnya.

Cerita favorit saya dalam buku ini adalah Obat Generik, Suatu Sore dan Sepenggal Dongeng Bulan Merah. Dalam Obat Generik penulis bercerita tentang Maria yang mempunyai pandangan yang konyol terhadap orang-orang yang lebih peduli terhadap orang lain. Maria bercerita tentang kisah ayahnya, seorang polisi (berpangkat rendah) yang mengabdi terhadap terhadap desanya, dia satu-satunya polisi di daerahnya itu. Namun dengan memiliki pangkat seorang polisi tidak membuatnya begitu dihargai. Ia membangun pos polisi di desanya seorang diri, tak ada yang membantunya. Dia yang menebas rumput membersihkan petak tanah yang kelak jadi pos polisi tersebut, ia menggunakan uang tabungannya sendiri untuk membeli metarial bahan bangunan, dan dibangunnya pos polisi itu seorang diri tanpa bantuan masyarakat ataupun menyewa tukang. Pada akhirnya ayah maria jatuh sakit dan wafat sementara maria masih berada di luar pulau melanjutkan pendidikannya. Maria sangat marah, karen absennya warga desa atau teman-teman kerja ayahnya atau komandan ayahnya yang absen membantu orang baik seperti ayahnya itu.

"Orang bodoh itu bukan yang punya intelektual tinggi," kata kakakku, "tapi yang mengabdi pada sesuatu yang tak peduli pada mereka." (Halaman 66 - Obat Generik)

Sumber: Akun Twitter
Dari keseluruhan cerita di dalam buku ini benar-benar memberikan sensasi yang berbeda. Saya yang dulunya lebih sering membaca buku-buku literatur bernuansa komedi seperti milik Kevin Anggara atau Bena Kribo kini membaca Metafora Padma milik Bernard Batubara. Saya sama sekali tidak pernah bosan selama membaca buku ini tanpa reaksi tertawa terbahak-bahak. Walaupun begitu, saya puas dibuatnya. Di dalam buku ini saya disuguhkan dengan bacaan yang begitu brutal, kisah yang begitu primitif, ada kronologi kematian, pemerkosaan dan pembunuhan. Saya seakan melihat sisi lain dari dunia ini.

Dunia ini begitu kejam, begitu pandanganku kini. Kapan dunia akan menjadi lebih indah? Akankah pertikaian atas sebab identitas bisa berakhir? Sampai kapan perbedaan akan terus di permasalahkan? Mana negeri yang katanya penuh dengan keragaman, tapi tetap satu kesatuan? Kini saya bertanya-tanya.

28 comments:

  1. Oh ini kumcer ya. Kalau tulisan beliau mah memang bagus ya, master fiksi.

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Iya kak.

      Sudah baca Metafora Padma nggak?

      Delete
  3. Bagus juga ini bukunya, ada nilai pesan yang disampaikan dengan bahasa metafora atau majas. Memang seharusnya pendapat yang berbeda atau apapun yang berbeda tidak perlu dimasalahkan. Melainkan menjadi rahmat.

    Makasih ulasan bukunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bro, sering-sering berkunjung disini yah.

      Delete
  4. pernah denger nama nya Bernard Batubara , cuma lupa kapan dan dimana ... by the way jadi ceritanya nya ini review ya ? .Kalo dari judul buku nya sih bagus sepertinya.

    Mau juga buat buku seperti novel , cuma gak tau kapan jadi nya :/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ini review. Silahkan aja beli bukunya.

      Semoga sukses juga rencananya, kalau udah terbit gue pasti baca.

      Delete
  5. Memang dunia sekarang sdh kejam mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan cuma sekarang, dari dulu memang sudah seperti itu.

      Delete
  6. Tulisan yang bagus gan, salut :)

    ReplyDelete
  7. Aku kemarin ke togamas mau ambil ini nggak jadi, lagi pengen emha ainun nadjib heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kapan-kapan kalau kembali, beli yah. Bukunya keren!

      Delete
  8. Hmm kayanya harus beli ini. jadi pengin nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bro, beli aja. Bukunya bagus, banyak hal yang bisa dipelajari disana.

      Delete
  9. Jadi pengen baca plus ngikutin medsos penulisnya. Thx u reviewnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bu. Seru loh ngikutin twitnya kak Bara.

      Delete
  10. bukunya dark ya, jauh bedanya dibanding buku bara sebelum2nya.

    ReplyDelete

Jika berkunjung ke blog saya jangan lupa untuk meninggalkan sebuah komentar. Terserah kalian mau ngomong apa yang penting masih dalam batas wajar.

About Me

Blog personal milik Mukhsin, kandidat sarjana yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Makassar.

Find me on Twitter:

Alexa Rank

Copyright