July 15, 2016

Jadi Cukup Saja Belum Cukup


Terkadang dalam hidup ini jadi cukup saja belum cukup. Bagaimana pun dalam hidup, kita dituntut untuk jadi seorang yang sempurna. Menjadi baik saja belum cukup, cantik saja belum cukup, kaya saja belum cukup, dan pintar saja belum cukup. Semua harus kita miliki.

Walaupun menjadi orang yang sempurna itu mustahil dan memang tidak ada kesempurnaan di dunia ini. Hal yang bisa kita lakukan hanya berlomba-lomba untuk menjadi terbaik. Saya sendiri sering merasa apapun yang selalu berhasil saya lakukan, hasilnya begitu-begitu saja. Kalau hidup saya dinilai, mungkin hanya nilai 7,5 atau B alias "Biasa aja". Masih jauh dari nilai sempurna, nilai 10.

Nilai 10. Sebuah lambang kesempurnaan, nilai tertinggi. Angka satu sebagai angka permulaan dan simbol keesaan, sementara angka nol sebagai angka akhir dan simbol ketiadaan. Apabila keduan angkanya digabung maka ada menghasilkan sebuah keseimbangan. Sama seperti konsep dalam  filosofi Tionghoa yang biasanya sebagai simbol keseimbangan, yaitu Ying dan Yang. Ada sesuatu yang negatif dan ada sesuatu yang positif.

Tapi, bagaimana  kalau memang hidup kita ini sudah ditakdirkan menjadi orang biasa saja? Apapun usaha yang kita lakukan, seberapa besar usaha tersebut hasilnya nihil, akan begitu-begitu saja. Dengan adanya orang yang biasa saja maka akan ada orang yang luar biasa. Sama seperti tidak ada orang baik tanpa ada orang jahat, tidak ada orang yang cantik dan tampan tanpa ada orang yang jelek, tidak ada orang yang kaya tanpa ada orang yang miskin, serta tidak ada orang yang pintar tanpa ada orang yang bodoh. Hidup ini penuh dengan keseimbangan.

Sejak kita kecil kita sudah tahu bahwa hidup ini adalah perlombaan. Diam di tempat atau kamu akan terinjak-injak oleh yang lain, dan menjadi seorang pecundang. Bahkan jauh sebelum kita lahir, untuk menjadi janin kita harus mengalahkan jutaan sel sperma yang lain. Berlomba-lomba untuk sampai duluan ke sel telur.

Sebuah hukum alam yang berbunyi, "Siapa yang kuat dia yang akan menang" akan selalu ada dalam hidup. Yang baik akan mendapatkan simpati, yang tampan akan mendapatkan kepopuleran, yang kaya akan mendapatkan kekuasaan, serta yang pintar akan mendapatkan penghargaan. Saya sering diajarkan kalimat ajaib yang berbunyi "Man Jadda Wajada", yang berarti barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil. Insya Allah!

Saya pernah menonton film Negeri 5 Menara, disitu Dony Alamsyah yang berperan sebagai Ustad Salman, guru di Pondok Madani mengatakan, "Ingat! Bukan yang paling tajam, tapi yang paling bersungguh-sungguh". Guruku juga pernah memberikan motivasi di dalam kelas, katanya kalau ingin mencapai impianmu lakukanlah dengan usaha di atas rata-rata yang dilakukan oleh orang lain.

Saya terkadang berpikir (dan mungkin juga kalian) kalau kita capek jadi orang biasa. Belum ada pencapaian yang bisa dibanggakan dalam hidup. Bagaimana pun caranya kita harus menjadi orang yang terdepan jikalau kesepurnaan itu sebuah hal mustahil. Apapun konsekuensinya kita harus terima. Jangan jadi pecundang saja.

Sebab cukup saja belum cukup. Hal yang kita perlukan sekarang adalah terus bergerak naik, bersungguh-sungguh tanpa semangat yang surut sedikitpun tanpa peduli peran apa kita akan diakui dalam hidup. Selama kita terus bergerak ke atas, maka akan tiba masanya, kita akan terkejut melihat diri kita sendiri. Kemudian kita mengucapkan syukur, lalu bahagia. Intinya kejar impianmu dengan sungguh-sungguh. Karena terkadang impian itu menjadi sebuah kenyatan pada waktu yang tidak kita sangka-sangka.

6 comments:

Jika berkunjung ke blog saya jangan lupa untuk meninggalkan sebuah komentar. Terserah kalian mau ngomong apa yang penting masih dalam batas wajar.

About Me

Blog personal milik Mukhsin, kandidat sarjana yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Makassar.

Kontak:


mukhsinpro@gmail.com

Alexa Rank

Copyright