October 25, 2015

Lukisan itu




Disebuah pameran lukisan, aku bertemu dengan seseorang lelaki muda yang sangat pandai melukis. Lukisan yang ia buat dikagumi banyak orang. Bukan hanya sekedar lukisan biasa, setiap lukisannya mempunyai cerita tersendiri. Dan aku sangat menyukai setiap kisah yang ia ceritakan kepadaku. Kebanyakan tentang cerita romantisme. Aku penasaran, aku meminta untuk berjalan-jalan ke rumah kediamannya sekedar melihat-lihat koleksi lukisan lainnya. Dan sangat beruntung, aku diizinkannya.

Selesai pameran, aku berangkat bersamanya. Rumahnya tidak jauh dari tempat pameran itu berlangsung, cukup berjalan kaki selama lima belas menit kita sudah sampai. Rumahnya tidak begitu besar, hanya ada satu ruangan besar untuk memamerkan koleksi gambar-gambarnya dan satu ruangan yang ia tempati untuk berkerja.

Aku kemudian dia ajak masuk kedalam ruangan kerjanya, sungguh suatu kehormatan bagiku. Dan aku lihat ada sebuah lukisan yang hampir jadi yang ia kerjakan. Ukurannya sangat besar. Sebuah mahakarya yang ia buat.

Lelaki itu kemudian mempersilahkanku untuk duduk, melihat melukis dengan sangat hati-hati. Aku tak berani bergerak sedikitpun, aku takut membuat suara-suara yang bisa membuatnya tidk bisa berkonsentrasi.Sekitar pukul dua dini hari ia menyelesaikan lukisannya. Dan sungguh luar biasa, ini salah satu dari sekian banyak lukisannya yang paling sempurna yang pernah ia buat. Lukisan yang katanya  ia serupakan dengan seorang wanita yang paling ia gilai. Ia kemudian mulai bercerita, dan aku sama sekali tidak bosan dengan ceritanya itu.

Katanya, ia melukis ini tepat pada hari dimana ia siap untuk mengangkat diri kembali semenjak ia merasakan patah hati terhebat yang terakhir ia rasakan. Goresan demi goresan ia lakukan dengan sangat teliti. Dan yang paling terakhir ia lukis adalah pada bagian wajah. Ini adalah bagian tersulit, dan ini bagian terindah.

Sekitar pukul dua dini hari, lelaki itu memasangnya pada bingkai yang telah ia siapkan. Gadis itu benama Dee, nama yang ia samarkan seperti perasaannya yang telah lama ia sembunyikan. Wajah yang tersenyum dengan warna kemerah-merahan dipipinya membuat ia semakin terlihat manis. Seperti orang lupa diri, ia bersandar pada lukisan itu seraya berbisik dengan pelan “Aku mencintamu.” Lelaki itu hampir tahu segala sesuatu tentang Dee, seolah ia adalah bapak kandungnya sendiri.

Lelaki itu kerap mengajakku untuk bercerita tentang apa saja  yang ada didunia ini. Tentang kisah-kisah yang tak aku dikenal. Tetapi kisah yang paling banyak ia ceritakan adalah cerita tentang Dee. Lelaki itu nampak bangga dengan semua ceritanya. Seperti bunga-bunga yang bermekaran di pagi hari. Setiap kali bercerita tentang Dee, ia memang selalu bangga. Seolah semua yang ia lakukan secara diam-diam akan membantunya. Aku benar-benar bingung. Cara lelaki itu mengagumi Dee membuatku berfikir bahwa jatuh cinta berarti jatuh gila.

Lelaki itu memang kelewatan bodoh. Dan ia adalah seorang pengecut sejati. Ia mengagumi Dee dari kejuhan dan tak pernah berani mendekat. Ia mungkin tahu segalanya tentang Dee, tapi Dee, mungkin tak tahu apa-apa tentang dia. Ia sangat menyedihkan.

Dan satu tahun ini, Dee yang ia cintai itu tetaplah sebuah lukisan yang menempel di dindingnya yang memang dibuat tersenyum. Senyum yang terinspirasi dari seorang bidadari bernama Dee.


6 comments:

  1. dan kepada Dee..
    Akankah kau tetap jd lukisan yg menggodaku dalam rindu yang diam ? Atau akan berganti baju menjadi manusia yang akan memandangku lamat lamat?? We'll see

    ReplyDelete
  2. Kisah selanjutnya belom nongol yee ??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seumanya reality life gue, jadi lama.

      Delete
  3. keren gan ceritanya ditunggu kisah selanjutnya

    ReplyDelete

Jika berkunjung ke blog saya jangan lupa untuk meninggalkan sebuah komentar. Terserah kalian mau ngomong apa yang penting masih dalam batas wajar.